“KERUDUNG PUTIH ITUUU……???
Pagi yang cerah ini aku dan bunga mampir ke toko dan melihat – lihat entah apa yang akan kami beli akan tetapi sekilas dari pandangan ku, ku melihat ada sesuatu yang memikat hati ku.
“bunga, kau lihat itu....?” sambil ku acungkan telunjuk ku.
“yang mana?”. nampaknya ia tak mengerti juga apa yang aku tunjukkan kepadanya.
“itu bunga, yang di gantung....”tegasku sekali lagi.
“ya... aku tau, kerudung itu kan maksud mu?”.
Lega, akhirnya ia mengerti juga , soo .... tak perlu terlalu banyak ku jelaskan.
Langkah malu tapi pasti, telah mengantarkan kami di depan tumpukan kerudung. Tapi tatapanku tetap tertuju pada kerudung yang di gantung di depan mataku. Warna putih bercampur pink memberikan kesejukan pada mataku yang tak henti – hentinya menatap. Bordiran biru nya dan ukiran indah yang berliku – liku, membuatku merasa damai menyentuhnya. tapi rasanya..... memegang nya saja tak cukup...., rasa nya aku ingin memilikinya, bahkan sangat ingin memilikinya.
“selvi.” aku sedikit tersentak saat bunga putuskan lamunan ku. “ya.... ada apa , bunga?” ya... . . seperti itu lah aku memanggil sobat ku. bunga, sebenarnya bukan nama aslinya tapi alfiah azzahra namanya, hanya saja aku memanggilnya begitu. Dia tak marah padaku , bahkan ia pernah bilang : “kau boleh memanggilku apa saja, asal panggilan itu ialah mencerminkan dari kasih sayangmu padaku, kasih sayang seorang sahabat.”
Aku punya alasan mengapa aku memanggilnya seperti itu, yaitu karena bros dekilnya itu.... bros yang selalu di pakainya tiap hari, bros yang berbentuk bunga dan tak pernah ku lihat jauh dari kerudungnya. Sekali pun punya banyak uang, ia tak pernah membeli bros baru, ia lebih suka dengan bros bunga yang dekilnya itu.
Menurut cerita bunga, bros itu memiliki sejarah tersendiri. Yaitu bros itu di dapat dari sahabat SMU- nya yang telah meninggal dunia dua tahun yang lalu, tias, (sahabatnya,sahabat lamanya itu) memberian bros bunga itu sebelum ia meninggal, dan berhubung persahabatan mereka sangat kental sehingga sampai saat ini bunga belum mau melepas bros bunga itu, jadi maklumlah kalau sudah dekil, sudah dua tahun sih! Terus terang aku jadi iri.... ingin rasanya aku memberikan sesuatu padanya, sesuatu yang akan selalu mengingatkan ku. Tapi aku.....?” aku tak punya apa –apa. Tetapi bukan hanya karena bros dekil itu saja yang menyebabkan aku memanggilnya dengan sebutan bunga, tapi alfiah azzahra itu memang seperti bunga, tepatnya bunga mawar. Orang nya cantik, harum, anggun, dan yang jelas ia sangat mempesona.”jilbab ini cocok buatmu, sel.”
“aaah bunga.... bisa saja kau memujiku. Meski aku tau itu hanya untuk menghiburku, tapi aku juga tahu kau tulus. Sebenarnya kerudung yang putih bersih ini memang kurang cocok dengan wajahku yang jauh dari kategori cantik. Sepertinya kerudung ini lebih cocok untuk mu bunga....” hardik ku dalam hati.
“apa tak sebaliknya kau beli saja? Kalau tidak segera bisa – bisa keburu di beli orang,” tanya nya polos. Seolah – olah tak tahu bahwa karena perkataannya itulah pikiranku melayang seketika.
“beli..... tidak... beli .... tidak.... aaaaah .... pusing . kalau tak membeli, bagaimana jika apa yang dikatakan bunga benar – benar terjadi! Tapi kalau aku beli, dari mana aku dapat uang sebanyak itu, tujuh puluh lima ribu itu, terlalu mahal bagi seseorang mahasiswa sekaligus anak kost seperti ku. Walaupun jadi beli, berarti aku harus tidak makan sampai akhir bulan nanti. Tak mungkin aku minta uang pada bapak di kampung, apa aku harus berbohong??? Tak mungkin ku lakukan itu. Tapi.... bukankah masih ada satu lagi yang bisa diharapkan, ya.... semoga saja.
“kenapa selvi, kok bengong....? kalau kamu belum ada uang, biar aku pinjamin , dari pada kamu menyesal nanti gak jadi beli?”
“ngak usah makasih, bunga.”
“kalau soal ganti nya, gak usah di pikirkan, di cicil juga boleh, hehehe jadi aku kayak tukang kredit aja... .” tawa manisnya sungguh mempesona....
“aah bunga, kau memang sangat baik sama seperti wajah mu yang begitu indah di pandangnya. Dan sekali pun aku baru mengenalmu sebelas bulan yang lalu, tapi kau seperti sahabat yang sudah lama aku kenal. Kau sangat mengerti aku bunga.
Kebaikan mu membuatku sangat berhutang budi padamu. Sekali pun kaya, kau tak pernah sombong. Kau selalu mau mendengar cerita – cerita atau pengalaman – pengalaman ku yang mungkin terkesan membosankan dan kampungan bagi kaum elit seperti mu. Kau selalu bisa membantu masalah ku. Ketika kesulitan transportasi, kau bersedia menjadi juru antar jemput ku. Ketika aku tak mampu membeli buku – buku mata kuliah, kau bersedia belajar bersama dengan ku. Masalah ku banyak teratasi berkat bantuan mu. Tapi untuk masalah yang satu ini. dalam lamunannya.
gak usah deh bunga??? .... Lagi pula itu tak terlalu penting bagiku.
“sekali lagi, makasih bunga.... “tegasku sekali lagi.
“ jadi benar nich, ngak jadi beli....?? nampaknya bunga sedikit kecewa.
“kalau begitu kita minum aja yuk?? Aku yang traktir lho!” jawab selvi.
Kami berjalan santai melewati sebuah toko aksesoris. Sebenarnya toko itu terlalu menarik tapi salah barang, yang di pajang di etalase itulah yang menarik perhatianku. Barang ini benar – benar menarik. Sebuah bros mungil yang amat imut dan manis. Aku jadi berfikir..... pasti akan menyenangkan jika aku bisa membelikannya untuk bunga, itung – itung buat mengganti bros dekilnya itu. Apalagi besok adalah hari ulang tahun bunga yang ke 20 tahun sekalian buat kado pertama dariku.... pasti bunga senang.
“sel kamu mau minum apa?”
“terserah kamu saja bunga, aku ke toilet. ”jawabku sambil berlari seolah – olah aku memang sedang menahan rasa ingin buang air.
Baiklah sel....
nampaknya bunga tak curiga, Ku langkah kan kakiku kembali
Ke toko aksesoris tadi, Lega.... bros kucing itu masih ada.
“berapa mbak, harganya....?” tanya ku tanpa basah – basi.
“empat belas ribu deg.”
“gak bisa kurang,mbak....?” usaha hemat ku mulai bereaksi.
“maaf, dik.... sudah harga pass.”
“baik lah mbak, tolong bungkuskan!” akhirnya aku menyerah. Mungkin bagi bunga harga segitu bukanlah suatu hal yang menyulitkan, tetapi yang sulit bagiku, apakah bunga mau menerima barang seharga itu??”
bersambung…..

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !