AYAH, PESAN ITU MASIH ADA
Debu terus melayang – layang mengikuti hembusan angin. Suara gesekan lembut dengan perlahan menyentuh ranting – ranting pohon tanpa daun. Dengan riangnya, udara panas tadi memaksa masuk ke sudut perkampungan . Membuat perkampungan itu terasa tak bernyawa. Air yang turun di musim penghujan, tidak mampu lagi bertahan lama. Yang tersisa hanya tanah penuh retakan kering. Bagaikan pasir yang selalu di lalap api tak henti - hentinya.
Kampung itu memiliki warga yang gigih dalam bekerja, warga yang selalu berusaha keras untuk mendapatkan uang demi tuntutan sesuap nasi bagi keluarganya. Tak ada kata menyerah dalam diri mereka, dan dulu, perkampungan ini memiliki tanah yang subur. Air tersimpan dengan banyak dan warganya sejahtera. Mereka bekerja sebagai petani. Dan air mengalir ke sawah – sawah tanpa hambatan.
“ya, kita harus yakin”, itulah isi hati seorang bapak yang sedang mengayuh sepeda dengan tenggorokan yang kering. Kakinya yang dulu kekar, kini tak berdaya lagi untuk melaju cepat di jalan kering ini. Hembusan napas dengan tergesa – gesa menggambarkan ia sedang terburu – buru. Terlihat anak kecil sedang duduk berpegangan erat ke pinggang ayahnya. Anak itu memakai seragam putih biru. Kira – kira berumur 13 tahun. Jam menunjukkan pukul 7.30. mereka terlambat ke sekolah!!!.
“ayah, buruan yah, aku hampir terlambat,” hardik fitriani.
“iya, baiklah anakku. Belajar yang rajin. Jangan malas!!” perintah ayah fitri.
Kenyataan nya, pendidikan tidak berlaku disini. Sekolah yang ada sejauh 20 km dari perkampungan. Karena alasan itulah hampir semua anak di kampung ini putus sekolah. Meskipun beberapa orang tua yang masih sadar akan pendidikan. Angin malam yang dingin sungguh kontras dengan panasnya matahari yang terik di siang hari. Menusuk ke seluruh tubuh. Selimut tebal tidak cukup hangat untuk menahan dinginnya udara malam ini. Disini fitriani sedang berbincang – bincang dengan ayahnya.
“kapankah ayah mau membelikan aku buku catatan pelajaran bahasa indonesia?” tanya fitriani
“memang nya buku yang lama sudah habis”. Jawab sang ayah.
“iya ayah, buku lama fitriani telah habis di pakai dari kelas 1 kemarin.
“ya sudah kalau begitu besok akan ayah belikan buku catatan mu itu.
Di pagi hari yang cerah, mereka berbicara dengan penuh kehangatan. Dan menjadi salah satu penghibur mereka di saat hari – hari yang sulit dan melelahkan. Sambil menepuk bahu anaknya, sang ayah berpesan seperti biasanya.
“fitriani anakku, ingat slalu dalam benak mu, sekolah yang rajin, jangan malas kejarlah cita – citamu jadilah yang ayah banggakan.” Sambil tersenyum sang ayah memandangi anak nya itu.
Fitriani mendengarkan dengan seksama, sambil mengangguk terdiam. Pertanda, bahwa perkataan ayahnya sudah tidak asing di telinga fitriani. Dan waktu yang di tempuh mereka sangat jauh. Sepeda ayah pun melenceng cepat. Mereka terlambat lagi akibat nya ban sepedanya yang kempes.”
“peesssssssssss....!!!” bunyi ban sepeda nya kempes.
“nak coba kamu turun dulu?”
“kenapa ayah, ada apa..?”
“tunggu sebentar, ayah mau menampal ban sepeda dulu. Kamu tunggu disini, ayah Cuma sebentar?” Pinya ayah.
“baik ayah”. Fitriani menuruti perkataan ayahnya.
Hemmz untung saja , ayah fitriani dengan cekatan secara cepat dapat mengatasi nya, sehingga tidak membutuhkan waktu lama. Dengan tergesa – gesa, sang ayah terus mengayuh sepeda. Keringat terus mengalir membuat baju rapinya basah. Sambil membawa buku di tangan, fitriani memegang erat pinggang sang ayah.
Di tengah perjalanan, terlihat seorang anak seumuran fitriani menggendong anak kecil di punggungnya. Gendongan itu tertutupi tudung wadah yang cukup besar hampir menutupi setengah tubuhnya yang mungil. Ya, dia adalah ratna , teman sekolah fitriani satu – satunya dari kampung nya. Sepeda yang tadi nya melaju cukup cepat kini berhenti. Dengan tergesa – gesa, ayah pun mencoba mengatur napas dan bertanya kepada ratna. Seperti biasanya. tutur kata lembut suara ayah yang terdengar merdu menyejukkan hati.
“nak ratna, kenapa tidak masuk sekolah?”. Tanya ayah.
Ratna hanya terdiam sejenak, suara nyaring terdengar malu.”
“ayah saya sedang sakit, saya harus memulung paman.!”
Sang ayah tampak murung dan merunduk menyesal, mereka tidak bisa berbuat apa – apa. Dengan berat hati, sepeda pun kembali melaju kencang. fitriani terus melihat ratna,yang tampak mengecil dan menghilang dari kejauhan.
Perjalanan hampir sampai. Namun ayuhan sepeda menjadi semakin lambat. Dengan lemas, tangan sang ayah memegang tangan fitriani.
Tiba – tiba ........!!! apa yang terjadi .....????
Braagggghhhhhhh!!!!...
braagggghhhhhh...!!!
Sepeda terjatuh dengan tiba – tiba. Sang ayah terbujur kaku tak berkutik. Fitriani sembari menangis ketakutan mencoba merangkul kepala ayahnya.
“ayah, bangun ayah, jawab fitri ayah! Jawab!!!”. Tanya fitriani sambil melihat wajah ayah nya tampak pucat. Dan memeluk erat tubuh ayahnya yang sudah tidak bernyawa lagi. Jeritan fitriani memanggil ayah, menggema membelah udara, sepi hamparan ladang rumput luas kala itu. Seakan turut berduka atas kepergian ayahnya. Rumput yang bergoyang menari – nari sedih tak dapat melalukan apa pun itu. Dalam tangisannya fitriani.
“ayahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh, bangun ayah. Jangan tinggalkan fitriani, fitri sayang sama ayah, bangun ayahhhhhh!!!”. Fitriani hanya bisa mengingat satu pesan yang selalu di sampaikan ayahnya tiap hari tanpa henti – henti nya sang ayah berpesan.”
“belajar yang rajin nak, jangan malas!!, kejar lah cita – citamu setinggi langit. Tetap lanjutkan sekolah mu nak”. Sembari fitriani duduk termenung, di tanah ladang yang luas, tangisan dan jeritan fitriani di saksikan rumput – rumput hijau nan luas itu sambil bergoyang – goyang mengikuti irama hidup di dunia ini.”

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !